Nov, 10 2025|Syaidi Umar
Bayangkan Anda baru saja mengirim paket lewat kurir. Di tengah jalan, ada orang asing yang menyamar pakai seragam kurir resmi, mengambil paket Anda, dan membawanya ke gudang mereka. Hasilnya? Paket hilang, data dicuri dan Anda bahkan tidak tahu itu terjadi sampai semuanya terlambat.
Inilah yang kita sebut BGP Hijacking. Di dunia internet, ini bukan sekadar teori, tapi ancaman nyata yang bisa bikin satu negara down. Solusi patennya sudah ada: RPKI. Tapi pertanyaannya, kalau memang sebagus itu kenapa di tahun 2025 ini kita belum mencapai angka 100% adopsi di Indonesia?
Buat Anda yang belum familiar, internet itu bekerja berdasarkan rasa percaya. BGP (protokol yang mengatur jalur data) biasanya percaya saja kalau ada sebuah jaringan mengaku: "Eh, alamat IP ini lewat gue ya!".
RPKI (Resource Public Key Infrastructure) hadir sebagai "KTP Digital" untuk alamat IP tersebut. Dengan RPKI, setiap pengumuman jalur rute harus punya sertifikat digital yang sah. Kalau nggak ada "KTP"-nya atau datanya palsu, ya ditolak. Simpel, aman dan otomatis.
Dunia sudah berubah. Serangan siber sekarang bukan lagi cuma nyerang website, tapi nyerang infrastruktur dasarnya. Kalau Indonesia mau jadi pemain besar ekonomi digital, infrastruktur internet kita harus bersih.
Kabar baiknya, Anda nggak jalan sendirian. IDNIC terus mempermudah proses ini. Dari panduan teknis yang lebih manusiawi sampai bantuan verifikasi yang lebih cepat. Target 100% adopsi itu bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi soal harga diri internet Indonesia.